Kondisi rumah keluarga pengidap penyakit depresi. Keluarga ini membutuhkan uluran tangan pemerintah dan penderma bagi kesembuhan penyakitnya. (foto: ist./tanjak.co.id)

Berharap Ada Perhatian Pemda Setempat.

TANJAK.CO.ID,Lingga – Semua penghuni rumah, satu keluarga di Jalan Air Bedegam, Kampung Nerakak RT 03/RW 04, Desa Sedamai, Kecamatan Singkep Pesisir, Lingga mengidap depresi berat.

Mereka yang mengalami depresi mulai dari ayah (84) ibu (68) beserta kedua anaknya. Yakni Par (43), Ern (42) dan adiknya Wid (26). Namun Wid belakangan kondisinya mulai membaik.

Saat awak media menyambangi rumahnya, Rabu (7/4/2021) tidak terdapat keanehan pada keluarga tersebut. Semuanyua nampak biasa-biasa saja.

Menurut keterangan warga sekitar, dari keempat anggota keluarga tersebut. Hanya Wid yang kondisinya mulai membaik. Hal ini setelah para rekan dan tentangganya yang terus memberikan semangat.

Kepada media ini, Wid menceritakan kronologis yang membuat dirinya pulih dari depresi tersebut. Ia mengalami depresi sekitar bulan Januari 2021.

Baca Juga :  Polres Lingga Gelar Penandatanganan Fakta Integritas Anti Narkoba

”Saat itu saya pulang dari Batam. Mendengar kabar ibu sakit, maka saya memutuskan untuk pulang kampung dan merawat ibu,” ujarnya.

Sementara, Par sang kakak perempuan, hingga kini masih mengalami depresi. Ia mengidap penyakit itu akibat sering mengalami kekerasan fisik dari sang suami.

”Kini mereka sudah bercerai. Padahal mereka sudah dikaruniai tiga orang anak.
Semua anak-anaknya saat ini diasuh mantan suaminya. Rumah kakak (Par, red) dengan rumah mantan suaminya tidak jauh alias masih bertetangga,” kata Wid.

Wid mengisahkan, bahwa dahulu dia pernah menjabat sebagai kepala dusun (kadus), sebelum Ia memutuskan untuk hijrah ke Batam menjadi petugas satpam (security) di salah satu perusahaan Pertamina dan bank swasta.

Baca Juga :  Gubernur: Investasi Itu Ibarat Telur Emas yang Harus Dijaga dan Dirawat

”Semua sudah saya lakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sampai hari ini saya merupakan tulang punggung keluarga. Ditambah lagi beban sang kakak yang mengalami depresi juga,” lirihnya.

Minta Perhatian Pemkab Lingga

Lebih jauh Wid mengungkapkan rasa kecewanya kepada aparatur Pemkab Lingga yang hingga kini, nampak tidak peduli atas nasib tragis yang menimpa keluarganya.

”Sampai hari ini aparatur desa tidak ada perhatian. Jangankan membantu, menjenguk keluarga kami pun tidak ada. Kami sekeluarga dianggap mereka seperti orang gila,” ungkap Wid.

Namun begitu, Wid mengucapkan terima kasih kepada kalangan muda di kampungnya yang berinisiatif mengumpulkan sumbangan, hingga terkumpul sebanyak Rp700 ribu.

”Uang yang terkumpul tersebut untuk membantu pengobatan ibu saya dengan metode rukiah,” terangnya.

Baca Juga :  Pemerintah Terus Pantau Sejumlah Cluster Baru Pasca Libur Lebaran

Wid berharap, Ibu, ayah berserta kakaknya segera bisa sembuh dari depresi tersebut.

”Tapi saya bingung dengan cara apa bisa pulih kembali. Kalau untuk berobat degan cara terapi atau ke psikolog, terus terang saya tidak mampu karena membutuhkan biaya,” ujar Wid.

Wid menjelaskan, banyak hal aneh yang dilakukan ibunya, semenjak Ia merawatnya di kampung. Sebab itu, Ia sekarang harus menyembunyikan benda-beda takjam di rumahnya, karena khawatir terjadi sesuatu.

Sementara dari ketiganya, satu lagi anggota yang masih mengalami depresi. Yaitu Ern (42). Ia merupakan kakak kandung langsung Wid.

”Namun saya bersyukur. Sebab suaminya masih setia merawatnya. Bahkan suaminya rela tidak melakukan aktivitas apapun, demi kesembuhan istrinya,” tutupnya.

Penulis: Redaksi
Editor: Takeichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here